pelajaran penting bagi persepakbolaan indonesia
merupakan salah satu titik lemah bila tim nasional PSSI Senior berhadapan lawan negara-negara dari kawasan Teluk Persia. Khususnya, ketika menghadapi situasi tendangan bebas tidak langsung di mana bola hanya diarahkan melayang ke dalam kotak penalti, tepat di mulut gawang.Paling tidak, empat gol jadi contohnya. Gol kedua Arab Saudi di Piala Asia 2007, Sabtu (14/7/2007). Gol pertama Oman di kualifikasi Piala Asia 2011, Rabu (6/1/2010). Terakhir, dua gol Iran di penyisihan Grup E Zona Asia Pra-Piala Dunia 2014, Jumat (2/9/2011). Keempat gol tersebut dicetak dengan cara yang sama. Unsur similaritas terjadi di sana.
Saya menyebutnya “tendangan bebas tanggung”. Bola melayang tanggung ditendang lambung ke dalam kerumunan pemain di mulut gawang. Di sana hanya keunggulan fisik yang berlaku. Tujuan tendangan itu demi mencari kepala yang berhasil menyundul bola.
Para pemain asal jazirah Arab memiliki tubuh yang jangkung, maka otomatis lompatannya pun jadi tinggi. Akibatnya, duel sundulan kepala selalu menyulitkan timnas Indonesia. Satu gol contoh yang bersarang ke gawang Jendry Pitoy (2007) dan tiga gol sisanya masuk ke dalam jala yang dijaga Markus Haris Maulana (2010-2011) sekaligus menunjukkan bahwa semua negara di Asia Barat sudah punya resep ampuh menundukkan Garuda Merah-Putih. Mereka habis membaca sampai khatam kelemahan antisipatif timnas kita.
Sebenarnya ada variasi teori buat menghindari ancaman gol yang terjadi dengan skema “tendangan bebas tanggung”. Pertama, bariskanlah tiga sampai empat pemain membentuk pagar hidup di depan penendang bebas. Pagar hidup itu bukan hanya berbaris saja, melainkan dibikin demi menghalangi pandangan dari penendang supaya dia tidak leluasa melihat mana ruang kosong dan siapa saja temannya yang kurang terjaga dengan ketat di mulut gawang.
Kedua, saat bola melayang naik, tariklah dua bek untuk mundur secepatnya turun sampai ke batas garis gawang. Sebaiknya dua bek yang berlari cepat mengisi ruang di bawah mistar gawang itu berposisi di dekat tiang gawang. Tiga orang, dua bek ditambah satu kiper, yang berjaga tepat di bawah mistar gawang berlaku seperti posisi pertahanan saat mengantisipasi sepak pojok.
Ketiga, kiper harus membaca dengan cermat di mana lokasi jatuhnya umpan yang dilayangkan, lalu maju menyergap dengan cara meloncat sebab tangannya pasti menjangkau lebih panjang ketimbang tingginya lompatan dari kepala para pemain.
Keempat, setiap lawan harus dikawal seketat mungkin di mulut gawang. Bila perlu saling menyenggol dulu, walau akan diperingatkan wasit yang jeli, upaya ini dapat mengurangi fokus konsentrasi lawan.
